Kakapo, Burung Nuri Unik yang Berjuang Melawan Kepunahan

kesieuthipth.com – Burung kakapo (Strigops habroptilus), yang dikenal juga sebagai “nuri malam” atau “parrot burung hantu,” adalah salah satu spesies burung paling unik dan langka di dunia. Endemik kepulauan selatan Selandia Baru, kakapo adalah burung nuri terbesar di dunia yang tidak bisa terbang, dengan karakteristik menarik dan kisah konservasi yang menginspirasi. Artikel ini akan mengulas keunikan kakapo, tantangan yang dihadapinya, dan upaya pelestarian yang terus dilakukan untuk menyelamatkan spesies ini dari kepunahan.

Ciri-Ciri Unik Kakapo

Kakapo adalah burung yang penuh pesona dengan ciri-ciri yang membedakannya dari burung lain:

  • Penampilan Fisik: Kakapo memiliki bulu hijau lumut dengan bercak kuning dan cokelat, memungkinkannya menyatu dengan lingkungan hutan. Burung jantan dapat memiliki berat hingga 4 kg, sementara betina lebih kecil, sekitar 1,5โ€“2,5 kg. Wajahnya yang mirip burung hantu, dengan cakram wajah yang khas, memberikan julukan “parrot burung hantu.”

  • Tidak Bisa Terbang: Berbeda dengan kebanyakan burung nuri, kakapo kehilangan kemampuan terbang karena evolusi di lingkungan tanpa predator alami. Mereka lebih suka berjalan atau memanjat pohon dengan cakar kuatnya.

  • Kebiasaan Nokturnal: Kakapo aktif di malam hari, menjadikannya satu-satunya nuri nokturnal di dunia. Mereka menggunakan indera pendengaran dan penciuman yang tajam untuk menavigasi hutan gelap.

  • Suara Unik: Jantan kakapo terkenal dengan panggilan “booming” rendah yang dapat terdengar hingga 5 km di malam hari untuk menarik betina selama musim kawin.

Habitat dan Sebaran

Kakapo hanya ditemukan di kepulauan selatan Selandia Baru, khususnya di Pulau Codfish (Whenua Hou), Pulau Anchor, dan Pulau Chalky, yang semuanya bebas dari predator. Dahulu, kakapo tersebar luas di hutan-hutan subalpin Selandia Baru, tetapi perusakan habitat dan masuknya predator seperti kucing, tikus, dan cerpelai menyebabkan penurunan drastis populasinya. Hutan lebat dengan vegetasi rendah adalah habitat ideal bagi kakapo, yang mengonsumsi daun, buah, biji, dan kulit kayu, terutama dari pohon rimu.

Ancaman dan Kepunahan

Kakapo pernah berada di ambang kepunahan. Pada akhir abad ke-20, populasinya tinggal 50 ekor, menjadikannya salah satu burung paling langka di dunia. Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan populasi kakapo meliputi:

  • Predator Pendatang: Mamalia seperti kucing dan tikus yang dibawa oleh penjajah Eropa memangsa telur, anak burung, dan dewasa kakapo.

  • **Perusakan HabitatๅŒ†ๅŒ†: Hutan yang menjadi habitat kakapo dihancurkan untuk pertanian dan pemukiman.

  • Reproduksi Lambat: Kakapo hanya berkembang biak setiap 2โ€“5 tahun, dan musim kawin bergantung pada ketersediaan buah rimu, yang membatasi pemulihan populasi.

Upaya Konservasi

Berkat upaya konservasi intensif, kakapo perlahan-lahan pulih. Program Kakapo Recovery, yang dikelola oleh Departemen Konservasi Selandia Baru, telah menjadi penyelamat spesies ini. Beberapa langkah penting meliputi:

  • Pemindahan ke Pulau Bebas Predator: Semua kakapo yang tersisa dipindahkan ke pulau-pulau aman seperti Whenua Hou, di mana predator dieliminasi.

  • Pemantauan Intensif: Setiap kakapo dipasangi pemancar radio untuk melacak pergerakan dan kesehatan mereka. Tim konservasi memantau sarang dan memberikan makanan tambahan untuk meningkatkan keberhasilan reproduksi.

  • Pembiakan Buatan: Telur kakapo kadang-kadang diinkubasi secara buatan untuk melindungi dari predator atau kegagalan induk.

  • Pengendalian Genetik: Untuk mencegah inbreeding, pasangan kawin dipilih berdasarkan analisis genetik.

Pada Juli 2025, populasi kakapo telah meningkat menjadi sekitar 250 ekor, sebuah pencapaian besar dibandingkan angka terendah 50 ekor pada 1990-an. Namun, spesies ini masih diklasifikasikan sebagai “kritis terancam punah” oleh IUCN.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski ada kemajuan, kakapo masih menghadapi tantangan. Keanekaragaman genetik yang rendah membuat mereka rentan terhadap penyakit, dan perubahan iklim dapat memengaruhi ketersediaan makanan di habitat mereka. Namun, teknologi modern seperti drone untuk pemantauan dan analisis genetik canggih memberikan harapan baru. Selain itu, kesadaran global tentang kakapo terus meningkat, sebagian berkat kampanye media sosial dan dukungan dari tokoh seperti Stephen Fry, yang menyebut kakapo sebagai “burung paling gemuk dan paling genit di dunia.”

Fakta Menarik tentang Kakapo

  • Umur Panjang: Kakapo bisa hidup hingga 90 tahun, menjadikannya salah satu burung berumur panjang.

  • Sistem Kawin Lek: Jantan kakapo membuat “lek” atau arena kawin dengan menggali mangkuk kecil di tanah untuk memperkuat suara booming mereka.

  • Bau Khas: Kakapo memiliki aroma manis seperti bunga, yang membantu mereka menavigasi dalam gelap.

Mengapa Kakapo Penting?

Kakapo bukan hanya simbol keunikan alam Selandia Baru, tetapi juga pengingat akan pentingnya pelestarian biodiversitas. Kisah kakapo adalah bukti bahwa dengan kerja keras dan dedikasi, spesies yang hampir punah dapat diselamatkan. Upaya konservasi kakapo juga menjadi model bagi program pelestarian spesies lain di seluruh dunia.

Cara Mendukung Pelestarian Kakapo

Masyarakat global dapat berkontribusi pada pelestarian kakapo dengan:

  • Donasi: Mendukung organisasi seperti Kakapo Recovery Programme melalui sumbangan.

  • Edukasi: Meningkatkan kesadaran tentang kakapo melalui media sosial dan komunitas lokal.

  • Ekowisata Bertanggung Jawab: Mengunjungi Selandia Baru dengan menghormati lingkungan alam dan mendukung inisiatif konservasi.

Kakapo adalah keajaiban alam yang terus berjuang untuk bertahan hidup. Dengan bulu hijau yang memukau, kebiasaan nokturnal, dan panggilan booming yang khas, kakapo menawarkan pesona yang tak tertandingi. Meski populasinya masih rentan, upaya konservasi yang gigih memberikan harapan bahwa burung nuri malam ini akan terus menghiasi hutan-hutan Selandia Baru untuk generasi mendatang. Kakapo mengajarkan kita bahwa setiap spesies, betapapun kecil populasinya, layak mendapat kesempatan untuk hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *