Rhino Putih Utara, Dari Kelimpahan hingga Ambang Kepunahan

kesieuthipth.com – Rhino putih utara (Ceratotherium simum cottoni), atau dikenal sebagai northern white rhinoceros, adalah salah satu mamalia terbesar di dunia yang kini berada di ambang kepunahan. Subspesies ini, yang merupakan pemakan rumput di padang savana dan hutan terbuka Afrika Timur dan Tengah, dulunya tersebar di negara-negara seperti Uganda, Sudan Selatan, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, dan mungkin Chad. Namun, karena perburuan liar yang masif untuk tanduknya yang bernilai tinggi (dijual hingga $110.000 per kg di pasar gelap Asia untuk obat tradisional palsu), populasi liarnya punah sejak 2008. Saat ini, hanya dua betina yang tersisa: Najin dan Fatu, yang hidup di bawah pengawasan ketat di Ol Pejeta Conservancy, Kenya.

Sejarah Populasi dan Penyebab Kepunahan

Pada awal abad ke-20, ada sekitar 2.000-3.000 ekor rhino putih utara di alam liar. Pada 1960-an, jumlahnya masih lebih dari 2.000, tapi perburuan dan konflik sipil (seperti perang di Kongo dan Sudan) menyebabkan penurunan drastis. Pada 1975, hanya sekitar 500 ekor liar dan 15 di penangkaran. Upaya konservasi sempat meningkatkan jumlah menjadi 32 ekor di Garamba National Park, DRC, pada 2003, tapi perburuan oleh kelompok bersenjata seperti Lord’s Resistance Army menghabisi mereka. Survei 2008 tidak menemukan jejak hidup, menjadikannya punah di alam liar.

Individu kunci termasuk Sudan, jantan terakhir yang ditangkap di Sudan pada 1975 dan mati pada 19 Maret 2018 di usia 45 tahun karena infeksi kaki. Ia adalah ayah Najin. Rhino lain seperti Suni (mati 2014), Angalifu (mati 2014), dan Nola (mati 2015) juga telah tiada. Pada 2009, empat rhino (termasuk Sudan, Najin, Fatu, dan Saut) dipindah dari kebun binatang Dvůr Králové, Ceko, ke Ol Pejeta untuk upaya kawin alami, tapi gagal karena usia dan masalah kesehatan.

Status IUCN: Critically Endangered (Possibly Extinct in the Wild) sejak 2020. Secara fungsional punah karena hanya dua betina yang tersisa, dan keduanya tidak bisa hamil alami (Najin punya masalah uterus, Fatu juga).

Upaya Konservasi dan Teknologi Reproduksi

Harapan terakhir ada pada proyek BioRescue, konsorsium internasional yang dipimpin Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research (Jerman), Safari Park Dvůr Králové (Ceko), dan mitra Kenya. Sejak 2019, mereka melakukan ovum pick-up (OPU) dari Fatu dan Najin untuk ambil sel telur, lalu fertilisasi in vitro (IVF) dengan sperma beku dari jantan mati seperti Suni.

  • Milestone utama:
    • Agustus 2019: OPU pertama, 2 embrio dari Fatu.
    • Hingga 2024: 21 OPU dari Fatu, menghasilkan 35 embrio viable (dari 18 OPU terakhir hingga Oktober 2024).
    • 2023: Kehamilan pertama dunia via IVF pada rhino (embrio southern white rhino ke surrogate southern white rhino bernama Curra, tapi mati karena infeksi setelah 70 hari).
    • 2024-2025: Transfer embrio northern white rhino ke surrogate southern white: Juli 2024, Desember 2024, Mei 2025 – belum berhasil kehamilan penuh, tapi ada tanda positif seperti perkembangan mucus uterus.
    • Akhir 2024: 5 embrio baru dari Fatu.
    • 2025: 3 embrio tambahan, total mendekati 36-40 embrio kriopreservasi di Berlin dan Cremona, Italia.

Mereka juga gunakan stem cell: Sel kulit dari 12 individu diubah jadi induced pluripotent stem cells (iPSC) untuk ciptakan telur/sperma baru, tingkatkan keragaman genetik. Embrio akan ditanam ke surrogate southern white rhino, subspesies saudara yang sukses pulih dari <100 ekor jadi 18.000+.

Tantangan: Biaya jutaan dolar, risiko kesehatan surrogate, etika (evaluasi oleh Universitas Padua), dan ancaman perburuan berkelanjutan. Pada 2025, dokumenter National Geographic “The Last Rhinos: A New Hope” tayang di Disney+/Hulu, soroti kemajuan ini.

Harapan untuk Masa Depan

Dengan hanya Najin (lahir 1989) dan Fatu (lahir 2000) yang tersisa, BioRescue target ciptakan populasi baru. Jika embrio sukses lahir (mungkin 2026+), ini bisa jadi keajaiban konservasi seperti pemulihan southern white rhino. Tapi, tanpa hentikan perburuan dan konflik, spesies lain seperti Sumatran rhino berisiko sama.

Rhino putih utara bukan sekadar hewan; simbol kegagalan manusia terhadap alam dan harapan sains. Dukung konservasi melalui donasi ke Ol Pejeta atau BioRescue untuk selamatkan warisan ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *